Meneladani Keihsanan Tuhan

Inna allaaha ya’muru bial’adli waal-ihsaani wa-iitaa-i dzii alqurbaa wayanhaa ‘ani alfahsyaa-i waalmunkari waalbaghyi ya’izhukum la’allakum tadzakkaruuna“.

Perintah berbuat adil dan ihsan itulah terdepan, baik beradil kepada Allah, kepada sesama manusia maupun kepada lingkungan. Berbuat adil kepada Allah SWT dengan beribadah kepada-Nya. Tuhan maha memberi kita segala-galanya denga servis tak terhingga, maka adil rasanya bila kita berhamba-hamba kepada-Nya, apalagi berihsa-ihsan. Anak yang tidak berbakti kepada orang tua pasti dicap sebagai anak durhaka. Bagaimana dengan kita yang tidak berbakti kepada-Nya?

Tuhan telah mencohtohkan keadilan melalui ciptaan-Nya. Masing-masing ciptaan punya kekurangan, sekaligus juga punya kelebihan. Semuanya sudah diatur sedemikian bagus oleh Tuhan. Dialog keadilan antara gajah dan burung soal sayap -saat kita kecil dulu- sungguh pemikiran filosufis yang amat jauh dan penuh makna.

Di alam penciptaan, Gajah memohon agar diberi sayap seperti burung dan Tuhan tidak menanggapi. Gajah tetap dicipta tanpa sayap. Kenapa? Jika Tuhan mengabulkan, maka Tuhan harus menyediakan tempat hinggap (penclokan) bagi gajah terbang tersebut. Tentu itu susah dan sangat berbahaya. Bukan Tuhan tidak mampu, tapi mengganggu struktur kehidupan lain yang sudah ditata sedemikian sempurna. Bisa dibayangkan bila gajah punya sayap dan terbang ke mana-mana, lalu hinggap sesukanya, di rumah penduduk, di gereja, masjid, keliaran di sekitar bandara, apa jadinya?

Setiap kali Tuhan mencipta kekuarangan pada hamba, di situ juga Tuhan memberikan kelebihan khusus bagi hamba tersebut. Persoalannya adalah, apakah si hamba mau semangat menemukan kelebihan itu, lalu meminijnya sehingga produktif dan bermanfaat?

Umumnya mereka hanya pasif dan menerima. Sedangkan bagi yang semangat, pastilah mampu menghasilkan prestasi yang menakjubkan. Betapa banyak hal itu terbukti dan nyata. Lahir tanpa tangan atau cacat permanen, ternyata bisa melukis pakai kaki. Kaki yang cacat, ternyata bisa pakai gigi dan seterusnya.

Andai semua susah didapat, yakinlah bahwa Tuhan adalah rujukan paling sempurna, menjanjikan dan pasti. Bagi orang yang cacat total -misalnya-, lahir tanpa tangan dan tanpa kaki, maka tidak usah kecil hati. Soal hidup sehari-hari, pastilah ada yang peduli. Pasti ada orang berhati malaikat di sekitar situ. Untuk prestasi, tidak usah pikir keahlian apa, ini dan itu. Pakai saja media Kalam-Nya, al-Qur’an.

Belajarlah membaca al-Qur’an secara bagus, lalu hafalkan secara sempurna. Seberapapun parah cacat anda, akan tertutupi oleh al-Qur’an anda, oleh kehafidhan anda. Anda akan ditempatkan sejajar dengan para pengahafal al-Qur’an lain, bahkan anda menyabet posisi istimewa. Tidak hanyai itu, kehidupan anda akan serba tercukupi. Tidak hanya itu, bahkan keluarga anda juga ikut menikmati. Tidak hanya itu, anda akan menjadi orang mulia, baik di sisi Tuhan mapun di hadapan manusia. Inilah yang utama.

Mengambil jalan Tuhan dengan memanfaatkan Kalam Tuhan bagi para penyandang cacat adalah cara paling mudah, paling murah, paling menguntungkan, paling membahagia dan paling mulia menurut pandangan agama. Diri anda ditempatkan pada ruang religious, suci dan terhormat. Begitulah, Tuhan telah menyediakan keihsanan melalui Kalam-Nya dan pasti bagus dan mulia. Sekuaran apapun seorang hamba, bila dibalut dengan keihsanan kalam-Nya, maka akan mejadi bagus sungguhan.

Maaf seribu maaf, seseorang ditakdir oleh lAlah SWT berbodi kecil atau cebol, lalu mencari nafkah di dunia hiburan memang sah dan itu haknya. Tetapi bila berprestasi melalui al-Qur’an, hafal al-qur’an sungguh lebih mulia, atau yang senada dengan al-Qur’an, seperti ilmu agama, pendidikan dan disiplin lain.

Martabat dirinya terhormat, tidak dijadikan bahan dagelan. Perilaku keagamaan, amal ibadah dan akhlaqnya lebih terjamin. Lingkungannya agamis, di masjid, di majelis taklim, di tempat pendidikan dan jauh dari kemaksiatan. Gaya hidupnya dipandu al-Qur’an dan serba mengarah amal kebajikan.

Tidak sama dengan mereka yang mengambil jalan di dunia hiburan. Memang uangnya bisa jadi lebih banyak. Tapi potensi untuk hidup mengumbar nafsu, berbuat maksiat, berfoya dan berglamor lebih terbuka. Gaya hidup mereka akan dipengaruhi oleh lingkungannya yang serba menuntut kenyamanan materi, syahwat dan nafsu. Kadang ada yang berulah tanpa berkaca lebih dahulu. Untuk ini, contoh sudah banyak.

Jika nanti dipanggil menghadap Tuhan -dan inilah yang paling penting bagi orang beriman- sama-sama penyandang cacat, tapi yang menyandang piala al-Qur’an pastilah lebih terhormat dari pada yang menyandang piala Gramy Award atau Festival Film Indonesia, Indonesia Idol dan lain-lain, menurut pandangan agama. Orang beriman beneran mesti menggunakan tolok-ukur agama, bukan nafsu dan kesenangan.  (K.H. Musta’in Syafi’i)