Kunci Ayat Kelima Surat Al-Fatihah

Setelah memperkenalkan diri sebagai Pemilik atau Penguasa Hari Pembalasan (Malik yaum al-din) dalam ayat keempat, maka ayat kelima: Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan).

Setelah Allah SWT memperkenalkan diri bahwa nanti di akhirat Allah SWT menekankan diri-Nya sebagai Penguasa hari pembalasan, maka kembali kita diingatkan untuk mempertegas komitmen tauhid kita kepadanya bahwa hanya Dialah yang patut disembah dan dimintai pertolongan pada hari tiada pertolongan selain dari-Nya.

Dalam ayat kelima ini ada dua kata kunci yang amat penting didalami, yaitu kata ta’abbud (iyyaka na’budu) dan kata isti’anah (wa iyyaka nasta’in). Dua kata yang selanjutnya disebut konsep ta’abbud-isti’anah mempunyai makna yang amat dalam. Ta’abbud dapat diartikan sebagai penghambaan diri secara total kepada Allah SWT, sedangkan isti’anah ialah bentuk pertolongan Tuhan terhadap hamba yang telah melakukan penghambaan diri secara total. Ta’abbud merupakan simbol pendakian (taraqqi) seorang hamba menuju Tuhannya dan isti’anah adalah simbol ‘penurunan’ (tanazul) Tuhan kepada hamba yang ber-ta’abud kepada-Nya.

Hal ini mengingatkan kita kepada sebuah hadis qudsi: “Jika hamba datang kepada-Ku berjalan maka Aku datang kepadanya berlari.” Dalam hadis lain dikatakan, “Barang siapa mendekati-Ku sejengkal maka Aku mendekatinya sesiku, barang siapa mendekati-Ku sesiku, maka Kudekatinya sedepah.” Di mana ada ta’abbud di situ ada isti’anah.

Ta’abbud bisa mengambil bentuk ibadah formal seperti ibadah mahdlah, misalnya, shalat lima waktu, puasa, zakat, dan haji: bisa juga mengambil bentuk ibadah sosial, seperti membantu kaum dhuafa dan memperbanyak amal jariah. Sedangkan, wujud isti’anah bisa mengambil bentuk berupa karunia Tuhan berupa kesehatan, kecerdasan, kemerdekaan, kekayaan, anak saleh, keluarga sakinah, dan lain sebagainya dari Tuhan.

Di dalam ayat lima ini, Allah SWT dengan tegas mengedepankan konsep ta’abbud baru kemudian konsep isti’anah. Ini menjadi isyarat buat kita bahwa ta’abbud harus mendahului isti’anah. Tidak ada isti’anah tanpa diawali ta’abbud. Upaya penghambaan diri secara total baru pertolongan dari Allah SWT tiba. Ta’abbud merupakan ikhtiar, tugas, dan kewajiban hamba, sedangkan isti’anah merupakan hak prerogatif Allah SWT. (rep/zf)