Kitab Legendaris Karya Pendiri Pesantren Tebuireng

Hadratusyekh KH M Hasyim Asy’ari merupakan sosok penting dalam dunia pendidikan Indonesia, khususnya di dunia pendidikan Islam. Karya-karyanya tidak terbatas pada tulisan saja, tetapi juga pada ide-ide besar terkait perjuangan mengusir penjajah.

Melalui resolusi jihad yang dicetuskan, puluhan ribu santri turut berjuang melawan penjajah. Saat pertempuran melawan Inggris di Surabaya, seorang santri berhasil membunuh petinggi militer musuh yang sangat penting, yaitu Jenderal Mallaby pada 30 Oktober 1945.

KH M Hasyim Asy’ari lahir di Kabupaten Jombang, Jawa Timur pada 14 Februari 1871. Mbah Hasyim (sebutannya) meninggal pada 21 Juli 1947 yang bertepatan dengan tanggal 7 Ramadan 1366 Hijriah. Makamnya di Tebuireng, Jombang selalu ramai dikunjungi peziarah.

Mbah Hasyim menghabiskan masa muda dengan menuntut ilmu ke sejumlah pesantren. Hingga akhirnya merantau ke Mekkah demi menuntut ilmu yang lebih tinggi. Sepulangnya dari Mekkah, pada 1899, dirinya mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng yang kelak menjadi pesantren penting di Indonesia.

Selanjutnya, pada 1926, bersama sejumlah ulama lain KH M Hasyim Asy’ari mendirikan organisasi Nahdhatul Ulama (NU) yang kini menjadi salah satu organisasi masyarakat Islam terbesar di dunia.

 

Karya Legendaris

Pada momentum Hari Pendidikan Nasional bulan lalu, penting kiranya mengulik beberapa karya fenomenal Hadratusyekh KH M Hasyim Asy’ari yang hingga kini terus dikaji dan diamalkan di berbagai majelis ilmu, baik itu secara formal di pesantren ataupun non formal.

Karena berkat karya-karya tulis tersebut, ratusan ribu santri di seluruh Indonesia dapat mengambil pelajaran yang berharga. Menjadi seorang Muslim yang berpikiran terbuka, penuh dengan wawasan keilmuan, dan selalu hormat pada para kiai.

  1. Risalah Ahlis-Sunnah Wal Jama’ah: Fi Hadistil Mawta wa Asyrathis-sa’ah wa baya Mafhumis-Sunnah wal Bid’ah(Paradigma Ahlussunah wal Jama’ah: Pembahasan tentang Orang-orang Mati, Tanda-tanda Zaman, dan Penjelasan tentang Sunnah dan Bid’ah).
  2. Al-Nuurul Mubiin fi Mahabbati Sayyid al-Mursaliin(Cahaya yang Terang tentang Kecintaan pada Utusan Tuhan, Muhammad SAW).
  3. Adab al-alim wal Muta’allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta’allim fi Ahwali Ta’alumihi wa maa Ta’limihi(Etika Pengajar dan Pelajar dalam Hal-hal yang Perlu Diperhatikan oleh Pelajar Selama Belajar).
  4. Al-Tibyan: fin Nahyi ‘an Muqota’atil Arham wal Aqoorib wal Ikhwan(Penjelasan tentang Larangan Memutus Tali Silaturrahmi, Tali Persaudaraan dan Tali Persahabatan).
  5. Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama. Dari kitab ini para pembaca akan mendapat gambaran bagaimana pemikiran dasar dia tentang NU.

Di dalamnya terdapat ayat dan hadits serta pesan penting yang menjadi landasan awal pendirian jam’iyah NU. Boleh dikata, kitab ini menjadi “bacaan wajib” bagi para pegiat NU.

6. Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah. Mengikuti manhaj para imam empat yakni Imam Syafii, Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal, tentunya memiliki makna khusus sehingga akhirnya mengikuti jejak pendapat imam empat tersebut dapat ditemukan jawabannya dalam kitab ini.***