Aksi LSPT Selama Ramadhan Hingga Jelang Takbiran

Menjaga kepercayaan dari para donatur ke Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) terus dilakukan pimpinan dan karyawan. Sekecil apa pun yang dipasrahkan kepada lembaga ini, maka harus ditasarrufkan kepada mereka yang berhak. Bagaimana bentuk aksinya di lapangan, tentu kami harus melihat keadaan.

Selama Ramadhan ini, memang banyak yang telah dilakukan. Meskipun lorong makam Gus Dur di Pesantren Tebuireng tertutup jauh sebelum bulan puasa, yang berarti pemasukan tidak seperti biasanya, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat. Bahkan dengan mengajak sejumlah kalangan, banyak juga kegiatan yang diselenggarakan.

Yang sudah dilakukan antara lain pembagian paket buka puasa. Kegiatan ini belangsung selama sepekan dengan menyapa sejumlah warga di daerah Cukir, Pandanwangi, hingga Ngoro. “Sasaran kami adalah warga kurang mampu,” kata Afif Abdur Rokhim.

Direktur LSPT tersebut menjelaskan bahwa bantuan menyasar beberapa warga yang ditemui di jalanan. Dari mulai tukang becak, pedagang kecil dan warga yang memang layak menerima bantuan buka puasa.

“Isi paket adalah lasi beserta lauk pauk yang layak untuk dikonsumsi bagi warga yang tengah menjalani mibadah puasa,” katanya. Hal tersebut demi meringankan beban warga imbas dari tersebarnya virus Corona. Lantaran tidak sedikit pengayuh becak yang mengalami sepi order lantaran tidak banyak yang keluar rumah.

Berikutnya adalah pendistribusian paket lebaran ke rumah warga. “Sasaran kegiatan adalah warga sekitar LSPT tepatnya di kawasan Kayangan, juga menjangkau Kecamatan Kesamben hingga Bandarkedungmulyo,” kata Muhammad Rusdi.

Dijelaskan Manager Program LSPT ini bahwa semakin banyak warga yang terdampak dari merebaknya virus Corona. Tidak semata dalam aspek kesehatan, juga perekonomian. Karena tidak sedikit dari mawra yang harus dirumahkan atau menerima Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) lantaran sepinya orderan dan sejenisnya.

Disampaikan Rusdi, bahwa pemberian santunan semakin penting apalagi dalam suasana Ramadhan lantaran harus menyiapkan sejumlah hal. “Pada kondisi normal saja, banyak yang harus disiapkan selama Ramadhan dan Idul Fitri, apalagi ketika pandemi seperti ini,” ungkapnya.

Rusdi juga mengemukakan bahwa sejumlah santunan yang diberikan tidak terlalu mengganggu keuangan LSPT. Hal tersebut lantaran banyak mitra dan donatur yang mengirimkan santunan. Termasuk ada warga Belanda bernama Mr Azam Jahangier.

Dengan demikian, walau kotak infak yang berada di lorong makam Gus Dur tutup, ternyata tidak terlalu berpengaruh kepada program yang dilakukan. “Hal ini tentu saja atas jasa baik berbagai kalangan yang memberikan perhatian kepada kami,” tegasnya.

Dalam pandangannya, Covid-19 di satu sisi adalah ujian. Namun dari peristiwa ini dapat menumbuhkan kesadaran bersama sejumlah warga untuk juga peduli dengan penderitaan sesama. Bahwa ukhuwah atau kebersamaan di antara kaum Muslimin masih tetap terjaga dengan baik yang ditunjukkan dengan kepedulian kepada warga tidak mampu.

Apa yang dilakukan LSPT selama Ramadhan tidak lain sebagai upaya menjawab kepercayaan donatur dan simpatisan. Besar harapan akan mendapat balasan setimpal dari Allah SWT. (Syaifullah)