Tata Cara Berkurban

Tanya:
Pak Ustadz, saya mau bertanya tentang wajib korban, karena dari beberapa informasi yang saya terima, malah membuat saya bingung.
Pertanyaan saya:
Dalam sebuah keluarga siapakah yang kena wajib korban?
Apakah hanya kepala rumah tangga saja (bapak yang memberi nafkah bagi keluarga tersebut). Atau harus sebanyak jumlah jiwa dalam keluarga tadi yaitu suami, istri dan setiap anak. Kalau jawabannya poin a mohon penjelasannya, begitu juga bila jawabannya poin b. Berkaitan dengan poin b (bila memang harus seperti itu tentang wajib korban), apakah dalam melaksanakan korban bisa digilir secara bergantian mulai dari suami hingga ke anak? (sesuai dengan kemampuan keuangan).
Untuk penjelasannya diucapkan terimakasih.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Adi Soenarko

Jawab:
Mas Adi, kurban itu hukumnya sunah. Tidak wajib. Kurban disunahkan bagi siapa saja orang muslim, yang mampu, mukallaf (baligh dan berakal), dan tidak dalam keadaan haji.
Dalam praktiknya, kebanyakan yang melaksanakan adalah kepala rumah tangga. Itu karena, kebanyakan, ia yang mempunyai pemasukan keuangan. Jadi, kalaupun kepala rumah tangganya sudah berkurban, ia tetap disunahkan untuk berkurban mewakili anggota keluarganya.
Dalam riwawat Tirmidzi [1505] dari Atha’ bin Yasaar berkata, aku bertanya kepada Abu Ayub al-Anshari bagaimana pelaksanaan qurban pada masa Nabi saw. Beliau menjawab: “Pada zaman itu lelaki melaksanakan qurban dengan satu ekor kambing untuk dirinya dan keluarganya, lalu mereka memakan dan menyedekahkannya.”
Tapi itu tidak menutup kemungkinan jika si istri, misal, punya uang sendiri untuk membeli kambing, ya silahkan saja. Demikian juga, misalnya ada salah seorang anaknya yang mampu membeli kambing sendiri, ya tidak apa-apa.
Kalau misalnya anggota keluarganya 8 orang, sementara ia baru mampu membeli 2 ekor kambing, ya kurbannya untuk 2 orang dulu. Yang belum kebagian, kurbannya tahun-tahun berikutnya. Bergantian.
Atau, misal saja, keluarganya cuma 3 orang, kaya raya, tiap tahun bisa berkurban, juga tidak apa-apa. Mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa kurban itu disunahkan tiap tahun.
Bisa juga dalam berkurban, kalau sulit atau tidak menemukan kambing, bergabung dengan orang lain untuk membeli sapi. Seekor untuk bertujuh. Jadi, kalau satu ekor kambing itu untuk satu orang, satu ekor sapi untuk 7 orang. Demikian, Wallahua’lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Berikut adalah ketentuan-ketentuan hewan yang sah untuk qurban:
1. Hewan ternak yang diperbolehkan untuk qurban adalah onta dengan segala jenisnya, sapi piaraan dengan segala jenisnya termasuk kerbau dan kambing termasuk di dalamnya kambing dan domba. Allah berfirman artinya “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syari’atkan penyembelihan [korban], supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka.” [al-Hajj: 34].
2. Umur hewan yang sah digunakan untuk qurban, para ulama sepakat bahwa hewan yang telah tanggal giginya, boleh untuk qurban. Biasanya hewan yang telah tanggal giginya, pada kambing berumur dua tahun lebih, bagi sapi atau kerbau berumur tiga tahun dan bagi onta berumur enam tahun. Adapun sesuai hitungan umur adalah sebagai berikut:
a. Untuk kambing jenis domba, menurut mazhab Syafii adalah yang telah berumur setahun penuh dan mulai tahun kedua, sesuai hadist riwayat Ahmad. Namun demikian kalau sudah tanggal giginya walaupun berumur enak bulan dianggap sah. Menurut Hanafi dan Hanbali, domba yang gemuk berumur enam bulan memasuki bulan ketujuh sah digunakan untuk qurban, pendapat tersebut juga diriwayatkan dari Imam Malik. Dalil pendapat kedua adalah hadist riwayat Ahmad dan Ibnu Majah yang menjelaskan bahwa Rasulullah memperbolehkan qurban dengan cempe atau anak kambing. Menurut Imam Hanafi, syaratnya harus gemuk sehingga kalau dilihat dari jauh tidak bisa dibedakan apakah kambing tersebut berumur enam bulan atau setahun.
b. Untuk jenis kambing kampung atau kambing kacang, menurut mazhab Syafii adalah yang berumur dua tahun penuh dan memasuki tahun ketiga. Menurut ulama lainnya, yaitu Hanafi, Maliki dan Hanbali adalah yang berumur satu tahun dan memasuki tahun kedua. Perbedaan tersebut berakar dari perbedaan penafsiran tentang kata thaniyah yang artinya hewan yang telah tanggal giginya, kapan umumnya itu terjadi pada jenis kambing kampung.
c. Untuk jenis sapi atau kerbau, Imam Syafii mengatakan minimum harus berumur dua tahun. Pendapat ini juga diikuti mazhab Hanafi dan Hanbali. Adapun mazhab Maliki mengatakan adalah yang berumur tiga tahun.
d. Adapun jenis onta, semua ulama sepakat bahwa onta yang sah untuk qurban adalah yang berumur lima tahun dan memasuki tahun keenam. (Sumber: al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah 5/81-90. Al-Fiqhul Islami Wa Adillatuhu. ***